Kamis, 18 November 2010

Tak Selalu Dengan Bakat

Pernahkan Anda mendengar
orang yang mengeluh karena dia
tidak berbakat dibidangnya?

Satu, tidak ada orang yang sehebat apa pun,
bisa mengatakan bahwa itu adalah
satu-satunya bakat dalam dirinya.

Dua,  sebagian besar bakat tidak dikenali,
sampai dibuktikan dalam pekerjaan.

Tiga,  kita tetap bisa berhasil
dalam bidang apa pun walau tanpa bakat,
asal kita bersedia MEMBAKATI
yang kita kerjakan.

From FB : Mario Teguh

Jumat, 08 Oktober 2010

Mandi Ujan

Siapa sih yg wkt kanak2 gk suka Mandi Hujan...?
Aku jg smp skrng msh suka Main ujan2an... (Sambil naik motor biasanya..)
So, kupikir gk ad salahnya memberikan kesempatan sm 2 bidadariku 

(yg sedari td menatap hujan & Anak2 lain yg sedang main hujan dr balik jendela... ) 

utk merasakan Asyiknya Mandi Hujan.. 

Pengalaman sederhana tp
memberikan sensasi luar biasa... 

                                                     "Bekasi diguyur hujan hampir tiap hari.."
                                                           "Cobain dulu aaah.. ujannya.. "
                                                          " Waah... banjiiir... dingiiin.... "
                                                           
                                                            "Bunda... aku ikutan kakak ya.."
                                                                         "Ada Petir...."
                                                      " Aku mandi ujannya di sini aja aah... "
                                                    "Alhamdulillah.. berhasil nagkep ujan... "
                                                     "Bunda, aku mau cari ikan dulu ya.."

                                                   Terimakasih Hujan...

Selasa, 16 Maret 2010

KETIKA AKU JATUH CINTA

Ketika aku jatuh cinta...
Aku ingin bisa mencintai-Mu,
Seperti bunga yang selalu mencari matahari

Ketika aku jatuh cinta...
Aku ingin bisa mencintai-Mu,
Seperti ombak yang selalu rindu menyentuh pantai

Ketika aku jatuh cinta...
Aku ingin bisa mencintai-Mu,
Seperti bulan yang selalu setia pada bumi

Ketika aku jatuh cinta...
Aku ingin bisa mencintai-Mu,
Seperti semut yang selalu datang pada gula

karena ketika aku jatuh cinta,
aku selalu ingin berjumpa dengan-Mu
aku selalu ingin dekat dengan-Mu
aku selalu ingin Engkau melihatku
Ya... Allah biarkan aku jatuh cinta pada-Mu...
Biarkan aku mencintai-Mu dengan cara paling sederhana sekalipun

Kamis, 04 Maret 2010

"Bila Hidup Itu Cermin"

Bila hidup itu cermin

Maka isyarat apa yg mampu menyiratkan hidup bahwa kehidupan itu adalah sosok kita

Atau.. sesosok kehidupan adalah penampakan dari wujud kita yang telah terpantulkan melalui lembar2 perjalanan

Maka,

Bila hidup itu cermin

Seharusnya kita lebih mengerti dan memahami hidup apa dan bagaimana yg telah dan akan di lalui agar mampu menempatkan diri padanya

Bila hidup itu cermin

Seharusnya kita dapat bersentuhan lebih dekat padanya agar kita mengetahui dengan jelas benar segala kekurangan yg terpantul dari cermin itu

Namun, sayang...

kita sering menganggap bahwa hidup itu adalah cermin cembung yang selalu melebih-lebihkan kekurangan dan mengurang-ngurangkan segala kelebihan yang kita miliki

Atau kita sering menganggap bahwa hidup itu adalah cermin cekung yang selalu memberi kekecewaan pada apa yang dipantulkannya

Dan menganggap cermin kehidupan adalah wujud yang lari dari kenyataan

Padahal kalau saja kita mampu merenungkan sejenak peristiwa yang telah kita alami, baik yang memalukan maupun yang menyenangkan adalah cerminan diri kita yang tak sempat kita cermati bahkan luput dari pandangan mata

Cobalah mengerti, andai kita mampu melihat hidup ini seperti cermin datar yang setiap hari kita berkaca padanya, melihat noda hitam di wajah dengan jelas dan pelan2 mulai menutupinya dengan polesan bedak atau sekedar lotion, bukankah itu lebih mudah?

Berapa kali kita bercermin untuk sekedar memperindah penampilan jasad ?

Namun,

ketika itu, sudahkah kita bercermin dengan kehidupan, menutupi kesalahan dengan amal soleh yang kita perbuat dan menjadikan sebagai jalan untuk dekat dengan-Nya seperti yang tiap hari kita lakukan pada cermin

Sudahkah?...

Atau memang kita malu untuk melihat segala kekurangan kita, melalui cermin kehidupan yang ada di depan mata?

dessyrilia - Renungan di penghujung Ramadhan 2009 (created By Tim ILNA)

17 September 2009 jam 16:23

Selasa, 16 Februari 2010

Potret, Target Dan Hakikat Anak TK Dalam Belajar Nilai-NIlai Keagamaan


POTRET, TARGET DAN HAKIKAT ANAK TAMAN KANAK-KANAK DALAM BELAJAR NILAI-NILAI KEAGAMAAN


Taman kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan yang pertama, yang keberadaannya sangat strategis untuk menumbuhkan jiwa keagamaan kepada anak-anak, agar mereka menjadi orang-orang yang kuat, terbiasa dan peduli terhadap segala aturan agama yang diajarkan kepadanya.
Pendidikan nilai-nilai keagamaan merupakan pndasi yang kokoh dan sangat penting keberadaannya, dan jika hal itu tertanam serta terpatri dalam setiap insan sejak dini, hal ini merupakan awal yang baik bagi pendidikan anak bangsa untuk menjalani jenjang pendidikan selanjutnya.
Bangsa ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Nilai-nilai keagamaan ini pun dikehendaki agar dapat menjadi motivasi spiritual bagi bangsa ini dalam rangka melaksanakan sila-sila pertama dan sila berikutnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, pendidikan yang merupakan kunci dalam membentuk kehidupan manusia ke arah peradabannya menjadi sesuatu yang sangat strategis dalam mencapai tujuan itu semua.


A. Potret Kegiatan Anak – Anak Dalam Belajar Nilai-Nilai Keagamaan

Setiap potensi apapun yang muncul dari anak seyogianya kita kembangkan dengan jelas dan terprogram dengan baik. Tidak hanya perkembangan bahasa, daya pikir, keterampilan dan jasmani saja, namun aspek keagamaan pun seharusnya menjadi salah satu pokok pengembangan dan pembinaan yang harus dikelola, diprogram dan diarahkan dengan sempurna.

Hasil observasi para mahasiswi PGTK FIP Universitas Jakarta sejak tahun 2000 sampai 2004, ada sekitar 60 % Taman Kanak-kanak yang tidak mempunyai kurikulum yang jelas tentang pengembangan nilai-nilai keagamaan. Ketidak jelasan ini merupakan indikasi betapa kita kurang adil dalam memperlakukan anak didik dalam hal pembentukan kepribadiannya dan pengembangan berbagai potensi yang ada pada diri anak. Bila kondisi seperti ini dibiarkan begitu saja, tentu jangan salahkan anak bila dalam perkembangan hidupnya anak mengarah pada penguasaan potensi akademik belaka, dan sangat minim dalam penguasaan aspek nilai-nilai keagamaan.




B. Hakikat Belajar Anak Taman Kanak-kanak Pada Nilai-nilai Keagamaan

Hakikat belajar anak Taman Kanak-kanak pada nilai-nilai keagamaan berorientasi pada fungsi pendidikan di Taman Kanak-kanak itu sendiri, yaitu :
• fungsi adaptasi, dimana Anak diharapkan dapat mengadaptasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupannya.
• fungsi pengembangan, adalah dalam rangka mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak termasuk potensi keagamaan secara optimal agar dapat bermanfaat.
• fungsi bermain, dalam menanamkan nilai-ilai keagamaan pun sebaiknya dilakukan dalam suasana bermain karena belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan

Dan juga sesuai dengan 6 prinsip dasar penyelenggaraan pendidikan di Taman Kanak-Kanak. Ke enam prinsip tersebut adalah :
1. Prinsip Pengamatan, menyerap segala informasi melalui indera penglihatan yang kemudian dikirim ke pusat syaraf.
2. Prinsip Peragaan, segala aspek pengetahuan atau informasi yang dipandang/dilihat baik konkret maupun abstrak seperti peasan-pesan moral dan sikap keagamaan harus diperagakan secara langsung oleh pendidik maupun secara bersama-sama dilakukan/ditirukan oleh anak itu sendiri. Melalui aktifitas peragaan ini, anak dapat menangkap suatu pesan atau informasi langsung dan konkret.
3. Prinsip Bermain untuk Belajar, suatu kondisi aktivitas yang yang dirancang secara terprogram dan mengandung esensi tujuan yang jelas (belajar)
4. Prinsip Otoaktifitas, mengandung makna bahwa anak menunjukkan keaktifannya yang tumbuh atas dorongan dari dalam dirinya sendiri.
5. Prinsip Kebebasan, diberikan dalam waktu membangun rasa tanggung jawab sesuai dengan kemampuannya, seperti diizinkan untuk membuat kepuusan, memilih dan diberikan kesempatan untuk hal-hal tertentu.
6. Prinsip Keterkaitan dan Keterpaduan adalah suatu hal yang secara faktual melekat pada diri anak usia prasekolah (Benard van leer Foundation. 2002:16-21)

C. Target Anak Taman Kanak-kanak Dalam Belajar Nilai-nilai Keagamaan

Berdasarkan GBPKB TK pengembangan nilai-nilai agama untuk anak Taman Kanak-kanak berkisar pada kegiatan kehidupan sehari-hari. Secara khusus penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak Taman Kanak-kanak adalah meletakkan dasar-dasar keimanan, kepribadian/budi pekerti yang terpuji dan kebiasaan ibadah sesuai dengan kemampuan anak.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan nilai-nilai keagamaan pada diri anak, yaitu faktor pembawaan (internal) dan lingkungan (eksternal).
Rasa keagamaan dan nilai-nilai keagamaan akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan psikis maupun fisik anak. Perhatian anak terhadap nilai-nilai dan pemahaman agama akan muncul manakala mereka sering melihat dan terlibat dalam upacara-upacara keagamaan, dekorasi dan keindahan rumah ibadah, rutinitas, ritual orang tua dan lingkungan sekitar ketika menjalankan peribadatan.
Target dalam mengembangkan nilai-nilai keagamaan kepada anak Taman Kanak-kanak adalah diharapkan mampu mewarnai pertumbuhan dan perkembangan dari diri mereka. Sehingga diharapkan akan muncul suatu dampak positif yang berkembang meliputi fisik, akal pikiran, akhlak, perasaan kejiwaan, estetika, dan kemampuan sosialisasinya diwarnai dengan nilai-nilai keagamaan.